Aku
baru terbangun dari tidurku dan merasakan sakit di kepala bagian belakang.
Sungguh benar kata orang tua zaman dulu ketika dilarang tidur saat sore hari.
Aku memang baru tidur pukul empat sore sepulang dari kantor dan baru bangun
setelah alarm di meja sebelah tempat tidurku berbunyi tepat pukul 19.00. Masih
malas rasanya untuk bangkit, aku hanya tiduran sambil melihat smartphone-ku. Terlihat sebuah pesan
masuk dari pacarku. Dia mengirimkan dua buah foto bunga wijaya kusuma yang ada
di rumahnya sedang bermekaran dengan indah. Aku tersenyum saat membaca pesan
berikutnya yang mana ia sangat bersemangat untuk memamerkan bunga itu padaku
dan memintaku untuk melihatnya langsung. Dasar perempuan, bilang saja dia
sedang rindu bertemu denganku. Kebetulan memang aku sudah lama sekali tidak
bertemu dengannya karena pekerjaanku di luar kota ini sangat menguras waktu dan
tenaga sampai tidak sempat untuk melakukan hal-hal lain. Aku kembali melihat
bunga wijaya kusuma itu di layar smartphone-ku,
sangat cantik memang sehingga banyak orang yang menunggu bunga yang katanya
hanya mekar di waktu tertentu ini. Aku sungguh tidak ingin lagi sebenarnya
melihat bunga ini mekar, karena mengingatkanku pada sebuah kisah yang cukup
tragis. Akan kuceritakan selengkapnya pada kalian.
***
Malam
itu aku sedang dalam perjalanan menuju sebuah kafe langgananku. Aku selalu
berkunjung jika kebetulan ada pekerjaan di kota ini. Kafe ini jauh dari
keramaian, malah ada di lokasi yang tidak lazim karena berada di area
perkebunan. Bangunannya merupakan bekas rumah administratur perkebunan zaman
Belanda dulu. Hampir tidak ada anak muda yang mengunjungi tempat ini karena
lokasinya yang jauh serta menu di kafe ini tidak update layaknya kafe-kafe kekinian. Tapi bagiku ini adalah tempat
yang sempurna untuk meminum secangkir kopi berkualitas hasil kebun mereka
sambil menyelesaikan pekerjaanku karena meskipun sepi, kafe ini juga
menyediakan WiFi. Menariknya lagi,
kafe yang bernama “Bezoeker” dari
bahasa Belanda yang berarti tamu ini memiliki dua buah pohon wijaya kusuma yang
ada di dekat pintu masuk. Konon, bunga ini dapat mekar secara bersamaan di
malam-malam tertentu.
![]() |
| Ilustrasi oleh AI Chat GPT |
Aku
memarkirkan motor besarku di tempat parkir sisi selatan pintu masuk seperti
biasa. Kulihat ada sebuah mobil sedan mewah yang terparkir lurus dengan garis.
Sekali lagi, meskipun Bezoeker
hanyalah sebuah kafe kecil, mereka sangat memperhatikan detail kecil seperti
garis parkir. Aku masuk ke dalam kafe tepat saat gerimis mulai turun. Kulihat
hanya ada seorang laki-laki yang sedang duduk di sisi dalam sambil menulis di
buku catatan. Pak Kusno, seorang pensiunan pegawai perkebunan yang juga si
pemilik kafe langsung berdiri begitu melihatku datang. “Selamat Malam, Pak.
Senang melihat Anda mengunjungi kafe kami lagi. Silahkan, silahkan” sapaan
ramah yang selalu kudapat saat berkunjung ke Bezoeker. Aku langsung duduk di kursi sebelah selatan yang
menghadap ke pintu masuk, tempat favoritku saat kemari. Kulihat Pak Sunjoto,
lelaki tambun nan ramah yang bekerja sebagai pelayan langsung sigap
menghampiriku. “Selamat Malam Pak, wah sudah lama njenengan tidak mampir. Mau pesan seperti biasa atau yang lain
malam ini?” lihat, beliau saja sampai hafal menu yang selalu kupesan disini.
“Ah, tidak Pak. Malam ini saya mau kopi susu dan kentang goreng saja.” “Baik
Pak, ditunggu nggih.”
Selepas
Pak Sunjoto, aku menghidupkan laptop
untuk menyelesaikan sisa pekerjaanku malam ini. Sambil menunggu pesanan,
kulihat pengunjung laki-laki yang duduk di seberang sana. Pria itu terus
menulis sambil sesekali melihat iPad di
depannya. Ia terlihat berumur tiga puluhan sepertiku, berpakaian casual dengan
kaos polo dan celana chinos, serta
berkacamata tipis. Seleranya cukup punya kelas, apalagi sedan mewah di parkiran
itu cukup bisa menggambarkan pekerjaannya yang mungkin punya gaji tinggi. Pesananku
datang saat sebuah mobil SUV mewah
masuk ke halaman. Terlihat beberapa orang keluar sambil terburu-buru masuk ke
kafe karena di luar masih gerimis. Lima orang anak muda berusia sekitar 27-28
tahunan itu masuk dan salah satu dari mereka tampak menanyakan meja mana yang
sudah mereka pesan. Sebuah pemandangan langka saat anak-anak muda mau
mengunjungi tempat terpencil seperti ini apalagi sampai reservasi segala. Aku
fokus pada pekerjaanku sambil sesekali memperhatikan mereka lagi. Aku memang
terbiasa memperhatikan penampilan seseorang, gaya bicaranya, cara berjalan,
atau sesuatu yang unik dari orang tersebut. Semata-mata kebiasaanku ini juga
karena tuntutan pekerjaanku.
Lima
anak muda itu akhirnya duduk melingkari sebuah meja yang cukup besar, lebih
besar dari meja-meja lain di kafe ini. Mungkin memang disiapkan untuk tamu yang
datang berkelompok seperti mereka. Lima anak muda itu terdiri dari dua
perempuan dan tiga laki-laki. Ada dua orang yang begitu menarik perhatianku. Pertama,
seorang perempuan yang penampilannya sangat mencolok. Aku yakin dia adalah
gadis yang sangat up to date dengan
perkembangan fashion. Bagaimana tidak, malam-malam begini dia memakai crop top lengan pendek dipadukan dengan jeans belel serta sneakers putih polos yang nampaknya bermerek. Belum lagi riasannya
yang cukup tebal menurutku untuk sekedar pergi ke kafe tua. Tapi dengan
penampilannya yang mencolok itu mengingatkanku pada seseorang yang sering
kulihat wajahnya di sosial media, sayang sekali aku sedang tidak ingat. Kedua,
seorang laki-laki dengan penampilan bak eksekutif muda ibukota. Sebuah hem
polos biru muda dengan celana coklat muda memang sangat pas dengan tubuhnya
yang tinggi tegap lagi tampan. Sangat serasi ketika dia menggunakan ikat
pinggang serta sepatu kulit yang melengkapi penampilannya. Kulihat dia juga
memakai sebuah jam tangan eksklusif di tangan kanannya. Penampilan dua orang
itu sungguh berbeda dengan tiga temannya yang berpakaian biasa saja seperti
umumnya anak muda yang sedang pergi ke kafe.
Aku
menyeruput kopi susu yang sejak tadi sudah tersaji di depanku. Perhatianku
kembali teralih saat anak-anak muda itu mulai bercerita dengan suara yang cukup
keras. Seperti yang sudah kuduga, mereka menceritakan pencapaian masing-masing.
Sambil mendengar cerita mereka, aku membuka sosial media dan dengan mudah
kutemukan identitas perempuan yang sedari tadi kuperhatikan. Anne Lusiana,
seorang model dan bintang iklan beberapa produk kecantikan lokal yang nama
serta wajahnya sering muncul di sosial
media. Tidak heran kalau penampilan Anne sangat mencolok bagiku, karena memang
pekerjaannya adalah public figure
lokal yang tengah memuncak. Kisah pencapaian dan ketenaran Anne kini sedang
hangat mendominasi di meja sebelah. Tentu orang sepertinya akan suka jika selalu
diperbincangkan bahkan oleh teman-temannya sendiri. Anne yang selalu tersenyum
saat teman-temannya memuji itu kemudian menyeletuk, “Eh tapi kalian jangan
salah dong. Si Henry udah lebih kaya dari gue.
Ya, gak bos?” Henry, ternyata adalah nama dari si pemuda berpenampilan
eksekutif tadi. Henry hanya tersenyum kecut sambil mengangat pergelangan tangan
seolah memamerkan jam tangannya yang berkelas itu.
Pekerjaanku
sudah selesai dan kumatikan laptop. Namun karena bosan di penginapan, aku
memilih tetap berada di kafe ini sampai tutup. Toh, di luar hujan makin deras. Lima
anak muda tadi juga masih bersemangat untuk mengobrol. Maklum, mungkin ini
memang pertemuan yang langka bagi mereka apalagi sudah saling sibuk dengan
pekerjaan masing-masing. Belum tentu besok
mereka bisa berjumpa lagi, pikirku tiba-tiba. Di tengah hujan begini
ternyata masih ada orang yang berkunjung ke Bezoeker.
Dua orang gadis muda masuk ke kafe dengan baju yang sedikit basah. Mereka
segera memesan minuman hangat dan duduk di dekat mejaku. Kulihat mereka tampak
cemas, entah karena hujan atau pesanan yang tak junjung datang. Tiba-tiba salah
satu dari mereka berdiri dan meminta izin ke Pak Kusno untuk pergi ke kamar
mandi. “Pak, apakah boleh kami ke kamar mandi berdua?” pintanya. “Oh boleh
Mbak, silahkan. Biar barangnya saya yang menjaga.” Ah, rupanya mereka cemas karena
hendak ke kamar mandi. Dua gadis itu hanya berkunjung sebentar ke Bezoeker dan langsung pulang setelahnya.
Lima
anak muda di meja sebelah masih terus mengobrol. Seorang perempuan lain
diantara mereka tiba-tiba berdiri sambil berkata, “Eh kalian minum sebanyak itu
jadi pengen pipis gak sih? Aku ke kamar mandi dulu ya!” dia langsung menuju ke
kamar mandi dengan sebelumnya bertanya letak kamar mandi pada Pak Kusno. “Ah
elah si Ratih, lu minum dikit doang air putihnya aja sampe dua liter” terdengar
pemuda bertubuh gemuk itu mengejek temannya. “Iya bener Tom, takut amat dia
sampe mabok.” Si pemuda yang sedang merokok itu menimpali. Aku bisa menebak
kalau para anak muda ini baru saja minum alkohol, tapi agar tidak sampai mabuk
mereka minum banyak air putih. Sebuah trik lama yang sering kudengar.
Hujan
masih terus terdengar karena cukup deras. Aku masih bertahan di Bezoeker bersama dengan lima anak muda
serta seorang lelaki di ujung ruangan itu. Lelaki itu hampir tidak mengerjakan
hal lain kecuali menulis, minum, dan melihat iPad. Dia mungkin tidak menoleh sama sekali pada anak-anak muda
itu. Pak Kusno juga masih duduk di meja kasir sambil sesekali melihat keluar.
Pak Sunjoto terlihat di dapur bersama Bu Eni, wanita yang bekerja sebagai koki
di Bezoeker ini. Kulihat anak-anak
muda itu saling bergantian ke kamar mandi. Mungkin benar dugaanku kalau mereka
banyak minum air agar tidak sampai mabuk, sehingga semua terpaksa harus ke
kamar mandi. Lagipula, hawa dingin seperti ini memang sangat membuat seseorang
ingin pergi ke kamar mandi. Terakhir yang pergi ke kamar mandi adalah Henry.
Dia cukup lama pergi ke kamar mandi dan ketika keluar, ia tengah berbicara
dengan Pak Kusno. “Pak, air di kamar mandi ini jelek ya?” protesnya. “Iya Mas,
kita pakai air PAM, kebetulan warnanya agak kuning jadi dikasih klorin” “Wah
bahaya dong air minum kita?” “Oh tidak Mas, kalau untuk masak kita pakai sumber
air dari sumur sendiri.” Henry tampak lega mendapat penjelasan dari Pak Kusno.
Kulihat dia tidak memakai jam tangannya sejak keluar dari kamar mandi. Ia baru
memakai lagi setelah sampai di meja.
Lima
anak muda itu tampak tidak begitu ramai seperti tadi saat Anne tidak berada
di antara mereka. Tampaknya dia masih berada di kamar mandi. Tapi sejak
seruputan kopi terakhirku, ini sudah lebih dari setengah jam. Keadaan mulai
mencurigakan. Apa yang dilakukan Anne di kamar mandi selama setengah jam?
Mereka mulai khawatir juga sehingga Henry meminta Ratih untuk mengecek Anne di
kamar mandi. Belum sampai satu menit, terdengar teriakan Ratih dari kamar mandi.
Semua orang langsung kaget termasuk laki-laki di meja seberang sana.
Kelihatannya dia baru melihat keadaan sekitar setelah mendengar teriakan. Semua
orang langsung berdiri dan Pak Kusno segera ke kamar mandi. Aku dengan
instingku yang tajam segera menyusul Pak Kusno. Kulihat Anne berada di kamar
mandi itu. Wajahnya tidak lagi cantik seperti saat aku melihatnya di pintu
masuk tadi. Matanya tertutup rapat dengan sebuah tali slingbag melingkari lehernya. Tidak hanya itu, kulihat sebuah pisau
besar menikam dada kirinya. Gadis itu telah tewas.
Semua
orang di Bezoeker malam itu tampak
tegang melihat Anne yang duduk tertikam di atas WC. Tidak ada satupun yang
berucap. Teman-teman Anne yang masih ketakutan akhirnya memindahkan mayat gadis
itu untuk direbahkan di lantai. Aku yang sedari tadi melamun tiba-tiba kaget
saat mereka memindahkan mayat itu. “Hei, siapa suruh kalian memindahkan jasad
gadis itu!” teriakku pada anak-anak muda itu. “Maaf Pak, kami hanya bermaksud
memindahkan agar mayatnya tidak kaku dengan posisi duduk.” ucap Henry dengan
suara bergetar. Aku menghela napas panjang. Kulihat Pak Kusno masih berwajah
tegang sembari melihat jasad Anne di lantai. “Pak Kusno, kita harus panggil
polisi...” belum sampai menyelesaikan kalimatku, sudah dipotong oleh Pak Kusno.
“Tidak! Tidak boleh ada yang menghubungi polisi! Aku tidak mau reputasi kafe
ini semakin hancur dengan adanya kasus ini!” suara Pak Kusno yang lantang
memecah keheningan malam itu. Aku paham betul, Pak Kusno berusaha mati-matian
mempertahankan kafe ini. Tentu dia tidak ingin kehilangan bisnisnya karena
seorang gadis ditemukan tewas di kafe ini. “Begini Pak, jasad gadis ini sudah
terlanjur dipindahkan dari tempat asalnya. Kalau Bapak tidak mau ada polisi
kemari, maka kita harus menemukan pelakunya malam ini juga.” Pak Kusno diam
sejenak kemudian mengiyakan perkataanku. “Baiklah, bisakah saudara bantu saya?”
“Tentu Pak Kusno, akan saya bantu.”
Aku
sedikit menyesal malam itu. Seharusnya aku beristirahat dengan tenang dan
terbebas dari tugas malah bertemu kasus yang mungkin ini adalah pembunuhan.
Tapi aku bertekad, aku harus menemukan pelakunya sesegera mungkin. “Apa yang
harus kita lakukan, Pak?” tanya Pak Kusno padaku. “Memastikan secara medis
bahwa gadis ini benar-benar tewas. Sayangnya tidak ada dokter di sini.” “Apakah
dia masih belum meninggal?” tanya Pak Kusno lagi. “Prosedurnya biasanya begitu,
Pak.” Aku sedang melihat-lihat jasad Anne tanpa menyentuhnya. Tiba-tiba
laki-laki misterius di ujung meja tadi mendekat, “Maaf, apakah saya boleh
membantu? Mungkin saya tidak berhak secara hukum untuk memeriksanya, tapi saya
biasa bekerja demikian.” aku sedikit kaget saat dia menawarkan diri. Tapi dia
segera melanjutkan, “Oh ya, saya Bagus. Dokter yang praktik di kota ini.”
“Baiklah Pak Bagus, silakan diperiksa sesuai prosedur medis.” dr. Bagus
kembali ke tempat duduknya dan mengambil sepasang sarung tangan karet. Setelah
beberapa menit, ia telah selesai memeriksa jasad Anne. “Dia sudah meninggal,
tepatnya 30-45 menit lalu. Tubuhnya masih sedikit hangat tapi aliran darahnya
sudah berhenti total. Kematiannya disebabkan oleh tusukan benda tajam di dada
kiri yang menembus jantung. Ada bekas lebam di lengan korban. Kemungkinan dia
sempat melawan sebelum ditikam. Juga tali slingbag
ini digunakan untuk mencekik. Tapi mungkin karena korban tidak segera mati,
maka pelaku memutuskan untuk menikamnya. Demikian pengamatan saya.” dr. Bagus
memberikan penjelasan lengkap yang sekaligus memberiku petunjuk kematian Anne. “Terima
kasih dr. Bagus, Anda benar-benar membantu kami.” dr. Bagus hanya tersenyum
kecil dan memilih menjauh dari kerumunan.
Pak
Kusno memerintahkan Pak Sunjoto untuk menutup gerbang serta pintu depan. Dia
tidak ingin ada pengunjung lain juga tidak mau terduga pelaku diam-diam
melarikan diri. “Pak Kusno, sebagai pemilik kafe ini Bapak berwenang untuk
meminta keterangan pada para terduga pelaku. Tapi sebelumnya, kita perlu
meminta data diri mereka.” aku mengeluarkan buku catatan serta pulpen untuk
mencatat. Satu per satu pengunjung kafe serta semua pekerja di kafe ini
kumintai datanya. Nama, usia, pekerjaan, hubungan dengan korban, aktivitas
terakhir sampai dengan korban ditemukan, serta kuamati juga hal-hal yang
mungkin dapat menjadi petunjuk. Aku meminta semua agar kembali ke tempat duduk
semula sebelum interogasi dilakukan. Setelah mengamati semua data yang kudapat,
segera kusampaikan analisisku pada semua orang. “Baiklah, saya minta kerja sama
kalian semua. Salah satu pengunjung kafe telah ditemukan tewas malam ini di
kamar mandi dengan luka tusukan. Pelakunya harus kita temukan malam ini juga
karena tidak ada polisi yang akan kemari. Menurut catatan yang saya miliki dari
keterangan kalian, yang paling mungkin menjadi pelaku adalah kalian berempat,
teman-teman Anne.” kataku sambil memandang ke anak-anak muda itu. “Tunggu,
kenapa Anda mencurigai kami? Bagaimana dengan Anda sendiri, dokter itu, dua
perempuan tadi, atau para pelayan kafe ini?” pemuda bernama Ricky itu langsung
memprotes. “Saudara Ricky, saya belum selesai bicara. Kalian berempat dicurigai
karena hanya kalian berempatlah yang pergi ke toilet selama sebelum korban
ditemukan tewas. Dua perempuan tadi bahkan sudah pulang sebelum Anne ke toilet.
Pengunjung lain maupun pelayan kafe ini tidak melakukannya, juga tidak mengenal
korban sama sekali.” semua kembali terdiam seakan setuju dengan penjelasanku.
Setelah
cukup dengan penjelasanku, aku dan Pak Kusno berdiskusi di ruangan lain.
“Bagaimana ini Pak, apakah sudah terlihat pelakunya?” aku membuka-buka catatan
sambil menjawab, “Belum, Pak. Tapi ada hal-hal aneh yang saya amati dari
anak-anak muda itu.” “Apa itu?” Aku kemudian menjelaskan pada Pak Kusno bahwa
penampilan mereka sedikit berubah sejak keluar dari toilet. Ratih menguncir
rambutnya yang sebelumnya ia gerai. Tomi melepas cardigan miliknya dan melipatnya di tangan kiri. Ricky mencuci muka
padahal udara di luar cukup dingin. Henry yang baru memakai jam tangannya saat
sampai di meja. “Apakah itu tampak mencurigakan? Bagaimana kalau itu memang
kebiasaan mereka?” tanya Pak Kusno. “Tidak, pasti ada dari mereka yang sengaja
melakukannya untuk menyembunyikan bukti kejahatan yang dilakukan. Kita tanyai
saja mereka.” Aku kemudian memanggil para saksi ini untuk kutanyai secara
terpisah. Tentu saja mereka semua mengelak. “Rambut saya kusut, Pak! Jadi saya
ikat saja biar rapi!” “Bapak lihat kan kalau saya ini gendut? Saya mudah
berkeringat. Jadi saya lepas cardigan karena keringat.” “Wajah saya berminyak
parah, Pak. Kalau nggak sering cuci muka nanti saya jerawatan!” “Saya tidak mau
jam tangan saya terkena klorin. Ini jam tangan mahal, saya harus menjaganya.”
Semua keterangan itu kucatat rapi sambil melihat keterangan siapa yang palsu.
Semua
pengunjung masih ada di tempat masing-masing. Aku juga meminta informasi dari
dr. Bagus, Pak Sunjoto, dan Bu Eni sebagai pelengkap. Setelah semua informasi
kudapatkan, segera saja aku kembali ke ruangan utama Bezoeker untuk pengungkapan. “Saudara sekalian, setelah mendapatkan
keterangan dari semua pengunjung juga pekerja kafe, kami telah mengerucutkan
terduga pelaku. Kami harap agar kalian bekerja sama untuk memberikan keterangan
yang sesuai. Saudara Henry, bukankah Anda yang membunuh Anne malam ini?” semua
mata tertuju pada Henry. “Hei, jangan sembarangan! Kenapa aku harus membunuh
temanku sendiri?” Henry mengelak. “Kami akan membuktikan kejahatanmu.” kata Pak
Kusno.
“Henry,
malam ini Anda pergi bersama Anne dan yang lain ke kafe ini. Kalian semua pergi
ke toilet akibat minum terlalu banyak, kan?” tanyaku. “Kalau itu yang Anda
tanyakan jawabannya adalah benar.” jawab Henry. “Anda pergi ke toilet urutan
terakhir. Saat itu Anne masih hidup karena Anne baru masuk ke toilet setelah
Anda masuk. Waktunya hampir bersamaan. Anda sengaja pergi ke toilet sampai Anne
juga pergi kesana.” aku menghela napas kemudian melanjutkan, “Anda keluar
sekitar lima belas menit setelah berada di toilet. Kalian baru menyadari Anne
terlalu lama disana sampai akhirnya Ratih mengecek dan menemukan Anne. Toilet
di kafe ini ada dua, sayangnya tidak ada tanda mana toilet wanita dan pria.
Jadi, semua bisa saja masuk di toilet yang sama.” aku berhenti sejenak untuk
membuka catatanku. “Lalu bagaimana saya bisa dicurigai? Tunggu, saat pergi ke
toilet saya bertemu dengan pelayan yang hendak membersihkan toilet. Itu berarti
alibi saya kuat. Tanyakan saja padanya.” aku memanggil Pak Sunjoto dan
menanyakan hal itu. Benar, Pak Sunjoto sedang mengepel lantai saat itu. “Benar,
saya bertemu Mas ini. Maaf, karena menunduk dan ada celah lebar di toilet,
sebelumnya saya sempat lihat Mas ini menurunkan celananya.” “Apa yang kamu
lakukan?” tanyaku cepat. “Apakah aku harus menjelaskan yang kulakukan diatas
WC? Tentu saja buang air! Konyol sekali pertanyaan Anda!” wajah Henry terlihat
kesal. “Bukan untuk membetulkan bajumu yang kusut setelah berkelahi?” aku
melihat Henry kaget. “Aku tidak berkelahi! Dan bajuku kusut karena aku duduk!”
“Bukan, bajumu kusut di siku ini. Kau menggulungnya saat melakukan pembunuhan.
Terlihat ada bekas cengkeraman juga di kerahmu saat Anne berusaha melawan.”
semua orang langsung melihat ke arah Henry. “Huh, bajumu sendiri juga kusut!
Apakah kau hanya bisa melihat dari baju saja lalu menuduh seseorang sebagai
pembunuh?” aku terdiam beberapa saat. “Kenapa kau baru menggunakan jam tanganmu
yang mahal itu saat di meja?” “Aku sudah bilang kan, aku tidak mau
menggunakannya di kamar mandi yang airnya mengandung klorin!” “Tidak, jam
tanganmu adalah edisi khusus yang bisa dipakai menyelam. Sudah kucari
artikelnya, air laut jauh lebih kuat daripada klorin. Jadi kalau hanya terkena
klorin itu bukan masalah. Lagi pula kau baru tahu air itu mengandung klorin
setelah kau keluar dari toilet bukan?” ternyata Henry tidak segera menyerah. “Hei,
aku tidak mau jam tanganku cepat rusak! Makanya selalu kulepas saat berada di
toilet. Aku selalu melakukan ini dimanapun!” kami sama-sama diam setelahnya.
Henry kemudian menantangku, “Jadi itu saja pembuktianmu yang mengada-ada itu?”
aku melihat Henry dari ujung kepala sampai ujung kaki tanpa ada yang terlewat.
“Sayang sekali anak muda. Kau pasti akan menyesal saat tahu ikat pinggang
kesayanganmu itu ada noda darah.” aku menunjuk sebuah noda di ikat pinggangnya.
“Hah, mana?” Henry tidak menyadari adanya noda darah itu. Dia segera melihat ke
arah ikat pinggangnya dan lagi-lagi mengelak, “Apakah kau tidak tahu mana patina
dan mana darah?” kini bukan aku yang menjawab, tapi dr. Bagus langsung berdiri
dari tempat duduknya. “Hei, apakah kamu mau aku membuktikan itu darah asli
dengan peralatan yang kubawa?!” kali ini kami benar-benar mendapatkan celah
psikologis dari Henry. Dia hanya diam dan menggores noda itu dengan jarinya.
Benar-benar darah.
Hujan
perlahan berhenti saat kami mulai mengetahui pelaku pembunuhan ini. Henry masih
diam di tempat duduknya tanpa mengatakan apapun. “Nak, sudah mengakulah saja.
Jangan merepotkan banyak orang. Kau sudah berbuat kejahatan di kafe ini dan
membunuh seseorang.” Pak Kusno mengatakan dengan suara yang tegas. Teman-teman
Henry yang sedari tadi hanya diam kini ikut berkomentar juga. “Apa itu benar,
Hen? Kalau memang benar akui saja. Kami akan mendampingimu.” Ratih memintanya
untuk jujur. “Iya bro, cepat. Kasihan Anne.” Tomi menambahkan. Henry akhirnya
mulai berbicara. “Anne itu gak sebaik yang kalian kira. Dia.. dia..” Henry
mulai kehilangan kata-katanya. Tak lama kemudian ia mengatakan hal yang
sebenarnya terjadi.
Henry
mengakui bahwa dia merencanakan pembunuhan kepada Anne malam ini. Motifnya
adalah dendam lama yang dimulai lima tahun lalu saat mereka masih kuliah. Henry
saat itu mempunyai pacar dan dari hubungan mereka akhirnya pacar Henry hamil.
Henry yang merupakan anak dari keluarga terpandang dan juga masih mahasiswa,
tidak mau bertanggung jawab dan memaksa pacarnya melakukan aborsi. Pacarnya
sempat menolak dan putus kuliah. Setelah itu Henry meninggalkannya tanpa ada
kejelasan. Tanpa diduga, Anne pindah ke kos yang sama dengan pacar Henry. Singkat
cerita Anne tahu masalah yang menimpa pacar Henry dan memanfaatkan situasi
tersebut untuk memeras Henry. Anne mengarang cerita bahwa pacar Henry tidak
melakukan aborsi dan anak dari hubungan mereka masih hidup dan tumbuh besar.
Anne akhirnya meminta Henry untuk mengirimkannya sejumlah besar uang untuk
biaya tutup mulut serta biaya hidup anak Henry. Saat itu Henry yang ketakutan
aibnya diketahui, hanya mengiyakan dan terus mengirim uang. Anne juga cukup
cerdik, ia selalu mengirimkan foto-foto pacar Henry dengan seorang anak kecil
sebagai bukti bahwa mereka hidup dari uang yang diterima dari Henry. Awalnya
Henry percaya namun curiga karena Anne hanya mengirim foto dan tidak pernah
memberi tahu kontak atau alamat pacar Henry. Karena curiga, Henry sempat
mengkonfrontir Anne, namun ditantang, “Kamu mau apa? Aku bisa panggil wartawan
sebanyak yang aku mau karena mereka tahu aku orang yang berpengaruh. Tinggal
aku katakan yang sebenarnya dan namamu akan tersingkir dari pencalonan parlemen
yang kamu puja-puja itu!” Henry sangat kesal dan memutuskan untuk melakukan
investigasi sendiri. Akhirnya kecurigaan Henry terjawab. Pacar Henry telah meninggal
beberapa hari setelah aborsi karena kondisi kesehatan fisik dan mentalnya yang
memburuk. Anne selama ini hanya mengarang cerita dan foto-foto yang dikirimkan
adalah foto dari kakak pacar Henry yang wajahnya sangat mirip dan sudah
mempunyai anak. Henry yang murka mengetahui fakta itu akhirnya merencanakan
pertemuannya dengan Anne. Agar tidak curiga, Henry mengajak serta Ratih, Tomi,
dan Ricky sebagai teman lama untuk ikut. Henry telah menyiapkan vila sebagai
lokasi pembunuhan, namun karena tidak mendapat kesempatan disana akhirnya
pembunuhan dilakukan di Bezoeker
malam ini. Anne dibunuh dengan cara mengikat lehernya dengan tali slingbag milik Anne agar dikira bunuh
diri, sayangnya Anne tidak segera tewas dan melakukan perlawanan. Henry yang
sudah menyiapkan pisau sebagai cadangan dan langsung menikamnya hingga tewas. Pengakuan
Henry ditutup dengan tangisannya serta jam tangannya yang berbunyi saat tepat
pukul 21.00.
Aku
telah menelepon kantor polisi terdekat serta ambulans. Mereka datang lima belas
menit setelahnya. Jasad Anne dimasukkan dalam ambulans untuk dibawa ke rumah
sakit diiringi tangisan teman-temannya. Henry segera dibawa ke kantor polisi
dalam keadaan terborgol dengan wajah yang lesu. Bezoeker kembali sepi. Hanya
terdengar Pak Sunjoto dan Bu Eni yang membersihkan kamar mandi lokasi
pembunuhan malam itu. Aku melihat Pak Kusno yang menatap kosong. “Pak Kusno,
kasus sudah selesai. Tenang saja, Pak. Saya sudah meminta polisi dan semua yang
ada disini merahasikan kejadian malam ini. Saya akan tetap berkunjung kesini
ketika ada pekerjaan di kota ini.” kataku pada Pak Kusno. “Saya juga, Pak. Saya
praktik di kota ini. Saya akan sering kesini.” dr. Bagus menambahkan. “Terima
kasih banyak ya. Saya tidak tahu apa yang akan terjadi setelah ini. Tapi, Bezoeker akan tetap buka.” terlintas
senyum tipis di wajah tua Pak Kusno.
Aku
undur diri setelah memastikan keadaan kafe sudah kondusif. dr. Bagus sudah
pulang lebih dulu dengan sedan mewahnya. Aku pamit dan melangkah menuju tempat
parkir. Langkahku terhenti saat melihat sepasang pohon wijaya kusuma di dekat
pintu masuk itu sedang bermekaran. Indah sekali. Sayangnya, keindahan ini
menjadi ironis saat mekarnya wijaya kusuma menjadi saksi akan noda hitam yang
terjadi di Bezoeker malam ini.
***
Aku masih melamun sambil memegang smartphone.
Kulihat di layar itu masih ada beberapa bubble
chat dari pacarku yang menanyakan kapan aku pulang dan mengunjunginya serta
melihat bunga wijaya kusuma yang sedang mekar di halaman rumahnya. Aku menghela
napas panjang setelah mengingat kejadian tragis malam itu di kafe Bezoeker. Kejadian itu sudah lewat
beberapa tahun lalu bahkan sebelum pandemi. Aku jadi sedikit jengah saat
mendengar kata wijaya kusuma yang sedang mekar. Aku tidak mau melihat wijaya
kusuma lagi. Siapa pun yang mengajakku aku tidak akan mau.
“Oke, minggu depan aku pulang kok.
Pastikan wijaya kusumanya belum kamu jual ya. Soalnya aku mau lihat juga.”
Enter.

Komentar
Posting Komentar